Selamat Datang Di Blog saya




Selamat Datang Di Blog Saya.


Blog ini dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah dasar dasar ilmu tanah pada semeseter 3 agroteknologi fakultas pertanian universitas nasional. dimana dosennya adalah Ir Inkorena G.S. Sukartono M,Agr. Selaku DEKAN di Fakultas Pertanian ini.

Penulis juga ingin meminta maaf atas kekurangan dari blog yang berisi tentang laporan ini.

Terimakasih.
Selamat Membaca.

===================================================================


Welcome to my blog. This blog was created to fulfill the basic course assignments in soil science in 3rd semester of agrotechnology, faculty of agriculture, national university. where the lecturer is Ir Inkorena G.S. Sukartono M, Agr. As a Dean in the Faculty of Agriculture. The author also wants to apologize for the shortcomings of the blog that contains about this report. Thanks. Happy reading.

===================================================================

check this out >>>

Pentingnya Mengetahui Warna Tanah & Bahan Organik Bagi Kehidupan

ADAM MAULANA
183112500150016




WARNA TANAH & BAHAN ORGANIK

Jika kita berbicara tentang kesuburan tanah,maka apa yang terlintas dipikaran anda?  Pastinya sebagai orang awam yang tidak mengerti tentang tanah akan bertanya-tanya bagaimana caranya melihat kesuburan suatu tanah? Apa indikatornya? Cukup dengan melihat warna tanah maka kita dapat mengetahui tingkat kesuburan tanah. Mengapa demikian? Warna adalah salah satu karakteristik tanah yang paling nyata dan sering digunakan untuk memerikan tanah.




A. Warna Tanah
           Warna tanah adalah suatu sifat fisik tanah yang merupakan campuran dari komponen-    komponen warna lain yang terjadi oleh pengaruh berbagai faktor yang memberi jenis warna  tertentu. Faktor penyebab adanya perbedaan warna permukaan tanah pada umumnya terjadi karena  
perbedaan kandungan bahan organik. Semakin tinggi kandungan bahan organik, berarti semakin gelap 
warna tanah. 

Warna tanah disusun oleh tiga jenis variabel, yaitu sebagai berikut.


1) Hue, menunjukkan warna spektrum yang paling dominan sesuai dengan panjang gelombangnya.

2) Value, menunjukkan gelap terangnya warna sesuai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan.

3) Chroma, menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum.


   
       Warna Produktivitas secara menurun berdasarkan warna tanah adalah sebagai berikut: hitam,cokelat,cokelat karat, cokelat kelabu, merah, kelabu, kuning, dan putih.
1.Warna Tanah Hitam,Cokelat



      Tanah yang berwarna kelabu hitam dapat diguga tergolong jenis grumosol atau andisol, tanah grumusol baik untuk bertanam padi. Sedangkan andisol cocok untuk tanaman sayuran.

2. Warna Tanah Merah

        Tanah yang berwarna merah fraenase dan aerasinya baik, tetapi kandungan bahan organiknya rendah. Tingkat perkembangan tanah umumnya sudah lanjut sehingga menyisakan mineral berat yang sulit atau lahan kapuk.

3. Warna Tanah Kuning


           Tanah yang berwarna kuning, sifatnya hampir sama dengan tanah warna merah. Bedanya, jika warnanya cenderung kuning muda beararti lebih banyak mengandung ion besi yang bilangan oksidasinya 3+.

4.  Warna Tanah Kelabu
           
                 Tanah yang warnanya kelabu drainase dan aerasinya jelek, sehingga penguraian bahan organik lambat. Partikel penyusunnya kebanyakan oleh kwarsa, kaolin atau mineral liat. Kandungan unsur seperti mangan, aluminium, dan magnesium cukup tinggi , sehingga bersifat racun bagi tanaman. Tanaman sayuran sangat peka terhadap kelebihan unsur-unsur ini.

5. Warna Tanah Putih

        Antara kandungan kapurnya tinggi atau kandungan unsur liatnya yang tinggi. Dapat dipastikan tanah ini miskin bahan organik. Drainase dan aerasinya juga buruk. Kurang cocok pemaikaian tanah yang berwarna putih untuk budidaya tanaman.


        Warna tanah dapat ditentukan dengan membandingkan warna baku pada buku Munsell Soil Colour Chart dengan warna tanah. Warna tanah akan berbeda apabila tanah dalam keadaan basah, lembap, atau kering. Di dalam penentuan warna tanah perlu dicatat bagaimana kondisi tanah tersebut apakah dalam keadaan basah, lembap, atau kering.


 Buku Munsell Soil Colour Chart

          Cara penggunaan Munsell Soil Colour Chart (MSCC) adalah dengan cara mengecek kemiripan warna tanah pada pedoman warna yang terdapat pada munsell soil colour chart. Selama penggunaan nya, buku tersebut perlu dibawa kelapangan untuk dijadikan pedoman dalam mencocokan warna tanah. Namun, apabila penetapan warna ini dilakukan secara manual, sangat mungking terjadi kesalahan sehingga informasi yang diproleh kurang akurat, selain itu, pengukuran dengan buku munsell soil chart secara langsung dilapangan akan membut buku tersebut cepat rusak, sementar harga nya sangat mahal. Berkaitan dengan hal tersebut maka, diperlukan alternatif lain untuk dapat mengukur warna tanah dengan lebih akurat, aman dan praktis.

B.Bahan Organik





          Bahan organik tanah (Soil Organic Matter) merupakan bahan di dalam atau permukaan tanah yang berasal dari sisa tumbuhanhewan, dan manusia baik yang telah mengalami dekomposisi lanjut maupun yang sedang megalami proses dekomposisi. 

Sumber Bahan Organik Tanah

Bahan organik tanah dapat berasal dari:
(1) sumber primer, yaitu: jaringan organik tanaman (flora) yang dapat berupa: (a) daun, (b) ranting dan cabang, (c) batang, (d) buah, dan (e) akar.
(2) sumber sekunder, yaitu: jaringan organik fauna, yang dapat berupa: kotorannya dan mikrofauna.
(3) sumber lain dari luar, yaitu: pemberian pupuk organik berupa: (a) pupuk kandang, (b) pupuk hijau, (c) pupuk bokasi (kompos), dan (d) pupuk hayati.






Proses dekomposisi bahan organik melalui 3 reaksi, yaitu:
(1) reaksi enzimatik atau oksidasi enzimatik, yaitu: reaksi oksidasi senyawa hidrokarbon yang terjadi melalui reaksi enzimatik menghasilkan produk akhir berupa karbon dioksida (CO2), air (H2O), energi dan panas.
(2) reaksi spesifik berupa mineralisasi dan atau immobilisasi unsur hara essensial berupa hara nitrogen (N), fosfor (P), dan belerang (S).
(3) pembentukan senyawa-senyawa baru atau turunan yang sangat resisten berupa humus tanah.

Peranan Bahan Organik Terhadap Tanah

Bahan organik dapat berpengaruh terhadap perubahan terhadap sifat-sifat tanah berikut:
(1) sifat fisik tanah,
(2) sifat kimia tanah, dan
(3) sifat biologi tanah.

Peranan bahan organik terhadap perubahan sifat fisik tanah, meliputi:
(1) stimulan terhadap granulasi tanah,
(2) memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah,
(3) menurunkan plastisitas dan kohesi tanah,
(4) meningkatkan daya tanah menahan air sehingga drainase tidak berlebihan, kelembaban dan temperatur tanah menjadi stabil,
(5) mempengaruhi warna tanah menjadi coklat sampai hitam,
(6) menetralisir daya rusak butir-butir hujan,
(7) menghambat erosi, dan
(8) mengurangi pelindian (pencucian/leaching).

Peranan bahan organik terhadap perubahan sifat kimia tanah, meliputi:
(1) meningkatkan hara tersedia dari proses mineralisasi bagian bahan organik yang mudah terurai,
(2) menghasilkan humus tanah yang berperanan secara koloidal dari senyawa sisa mineralisasi dan senyawa sulit terurai dalam proses humifikasi,
(3) meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah 30 kali lebih besar ketimbang koloid anorganik,
(4) menurunkan muatan positif tanah melalui proses pengkelatan terhadap mineral oksida dan kation Al dan Fe yang reaktif, sehingga menurunkan fiksasi P tanah, dan
(5) meningkatkan ketersediaan dan efisiensi pemupukan serta melalui peningkatan pelarutan P oleh asam-asam organik hasil dekomposisi bahan organik.

Peranan bahan organik terhadap perubahan sifat biologi tanah, meliputi:
(1) meningkatkan keragaman organisme yang dapat hidup dalam tanah (makrobia dan mikrobia tanah), dan
(2) meningkatkan populasi organisme tanah (makrobia dan mikrobia tanah)



Daftar Pustaka :
     tanah.html(Diakses pada tanggal 13 Desember 2019 pukul 19.00 
     WIB)
     pada tanggal 13 Desember 2019 pukul 19.15 WIB)
http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2007/11/bahan-organik-
           tanah.html (Diakses pada tanggal 13 Desember 2019 pukul 19.22
     WIB)

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR – DASAR ILMU TANAH ACARA X “Peptisasi dan Flokulasi”

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR – DASAR ILMU TANAH


ACARA X
“Peptisasi dan Flokulasi”






Disusun oleh :
Nama  : Adam Maulana
NPM  : 183112500150016
Kelas  : A
Kelompok  :  3

UNIVERSITAS NASIONAL 
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
JAKARTA
2019




I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada proses pembentukan struktur tanah, gaya yang menyatukan butir-butir primer menjadi agregat adalah :
Gaya intermolekuler (gaya london Van Der Walls dan ikatan H)
Gaya kapiler yang timbul akibat adanya meniscus
Gaya kimia termasuk pengaruh kation yang terjerap
         Gaya intermolekuler adalah yang terpenting dalam pembentukan struktur mikro.Zarah harus berdekatan satu sama lain, barulah gaya erebut bekerja.Untuk dapat berdekatan zarah tersebut haru terflokulasi atau terkoagulasi terlebih dahulu.
         Pengaruh kation terhadap flokulasi dipengaruhi oleh valensi dan derajat hidrasi dari kation-kation tersebut.Kekuatan flokulasi kation-kation disusun menurut urutan Hofmeister, sebagai berikut :
         H+>Ba2+>Sr2+>Ca2+>Mg2+>Cs+>Rh+>NH4+>K+>Na+>Li+
         Pemberian larutan elektolid dari kation-kation yang mempunyai kerapatan muatan yang tinggi seperti (NH4+ dan Na+) ke dalam suspensi tanah maka akan menyebabkan kation-kation tersebut diserap oleh liat (koloid) tanah dengan lapisan listrik ganda yang tebal sehingga berpotensial tinggi. Semakin tebal hidrasi (mantel air) maka gerakan Brown ion-ion yang terjerap dipermukaan koloid semakin besar sehingga jerapan semakin lemah, netralisasi muatan koloid tidak terjadi dan muatan negatif semakin menonjol serta menimbulkan gaya tolak-menolak yang akhirnya terjadilah peptisasi.



B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk Mengetahui gejala flokulasi dan peptisasi dari suspensi tanah di sekitar kebun percobaan dengan menambahkan NH4OH, Ca(OH)2 dan HCl kedalamnya.



II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Koagulasi dan Flokulasi
menurut Alerts dan Santika ( 1987 ), jenis partikel koloid merupakan penyebab kekeruhan dala air ( efek tyndal ) yang disebabkan oleh penyipangan sinar nayra yang menembus suspense tersebut. Partikel-partikel koloid tidak terlihat secara visual sedangkan larutannya ( tanpa partikel koloid ) yang terdiri dari ion-ion dan molekul-molekul tidak pernah keruh. Larutan tidak keruh jika terjadi pengendapan (presipitasi) yang merupakan keadaan kejenuhan dari suatu senyawa kimia.
Menurut vesilind et al. ( 1994 ), partikel koloid dalam air sulit mengendap secara optimal. Partikel koloid mempunyai muatan, penambahan koagulan akan menetralkan muatan tersebut. Partikel netral akan saling berikatan membentuk flok-flok besar dari partikel koloid yang berukuran sangat kecil. Hal ini disebut sebagai proses flokulasi.
Menurut Steel dan McGhee ( 1985 ), koagulasi diartikan sebagai proses kimia fisik dari pencampuran bahan kimia ke dalam aliran limbah dan selanjutnya diadu cepat dalam bentuk larutan tercampur. Flokulasi adalah proses penambahan flokulan pada pengadukan lambat untuk meningkatkan saling hubung antar partikel yang goyah sehingga menyebaban penyatuan ( aglomerasi ).
Metcalf dan Eddy ( 1991 ), menyatakan bahwa untuk mendorong pembentukan agregat partikel, harus diambil langkah-langkah tertentu guna mengurangi muatan atau mengatasi pengaruh muatan partikel. Pengaruh muatan dapat diatasi dengan : (1) penambahan ion berpotensi menentukan muatan sehingga terserap atau bereaksi dengan permukaan koloid untuk mengurangi muatan permukaan, atau penambahan elektrolit yang akan memberikan pengaruh mengurangi ketebalan lapisan difusi listrik sehingga mengurangi zeta potensial. (2) penambahan molekul organik berantai panjang ( polimer ) yang sub-bagiannya dapat diberi muatan sehingga disebut polielektrolit, hal ini menyebabkan penghilangan partikel melalui adsorbs dan pembuatan penghubung, dan (3) penambahan bahan kimia yang membentuk ion-ion terhidrolisis oleh logam.





III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum konsistensi tanah adalah hanya ibu jari yang digunakan untuk menganalisis struktur dari tanah yang di uji.  Diperlukan juga buku penuntun untuk membantu menganalisis struktur tanah yang diuji.

B. Cara Kerja
Cara yang digunakan dalam praktikum peptisasi dan flokulasi adalah sebagai berikut :
1. 5 gram contoh tanah dimasukan dala gelas ukur 100 ml, ditambahkan 10 ml 〖NH〗_4OH 3 N dan diberikan H2O hingga isinya tepat 100 ml.
2. Diaduk sampai rata dan kemudian dibiarkan beberapa menit, agar bahan-bahan kasarnya menguap. Kekeruhan suspense menunjukan tingkat peptasi
3. Tambahkan 10 ml Ca(OH)2 0,04 N, kocok dan biarkan. Perhatikan gejala flokulasi yang terjadi
4. ke dalam tabung yang lain setelah diberikan 10 ml 〖NH〗_4OH 3 N seperti diatas, tambahkan 10 ml HCl lalu diaduk dan biarkan. Perhatikan flokulasi yang terjadi dalam sistem ini.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Praktikum

No Gambar Keterangan
1






Tanah sebanyak 5 gram
2  


- Pada tabung 1 menggunakan larutan    Ca(OH)2
- Pada tabung 2 menggunakan larutan HCl
- Pada tabung 3 menggunakan larutan H2O


B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini digunakan sampel tanah dengan ditambahkan larutan H2O, larutan Ca(OH)2, dan larutan HCl. Tanah yang berada di larutan H2O dijadikan sebagai kontrol. tanah yang berada dilarutan H2O terlihat mudah atau cepat mengendap di bawah larutan. Pada tanah yang berda dilarutan Ca(OH)2 tidak begitu cepat mengalami pengendapan. Sedangkan pada tanah yang berada dilarutan HCl sulit mengalami pengendapan, diantara ketiga larutan HCl merupan larutan yang paling lama mengendapkan tanah.
Metcalf dan Eddy ( 1991 ), menyatakan bahwa untuk mendorong pembentukan agregat partikel, harus diambil langkah-langkah tertentu guna mengurangi muatan atau mengatasi pengaruh muatan partikel. Pengaruh muatan dapat diatasi dengan : (1) penambahan ion berpotensi menentukan muatan sehingga terserap atau bereaksi dengan permukaan koloid untuk mengurangi muatan permukaan, atau penambahan elektrolit yang akan memberikan pengaruh mengurangi ketebalan lapisan difusi listrik sehingga mengurangi zeta potensial. (2) penambahan molekul organik berantai panjang ( polimer ) yang sub-bagiannya dapat diberi muatan sehingga disebut polielektrolit, hal ini menyebabkan penghilangan partikel melalui adsorbs dan pembuatan penghubung, dan (3) penambahan bahan kimia yang membentuk ion-ion terhidrolisis oleh logam.



V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan praktikum peptisasi dan flokulasi maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Tanah yang dilarutkan pada air biasa mudah mengendap
2. Tanah yang dilaruthan pada Ca(OH)2  tidak cepat mengendap
3. Tanah yang dilarutkan pada HCl sulit untuk mengendap

B. Saran
Selama proses praktikum kali ini sudah berjalan dengan lancar dan sudah cukup baik. Hanya saja sering terjadi ketidak kondusifan selama proses praktikum, alangkah lebih baik jika proses praktikum berjalan lebih kondusif. Penjelasan mengenai prosedur praktikum alangkah lebih baik jika diterangkan dengan seksama agar mudah dipahami.




DAFTAR PUSTAKA
G,S Sukartono, Inkorena. 2019. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Nasional: Jakarta.
Gusli, S. 2015. Penuntun Praktikum Dasar-dasar Ilmu tanah. Makassar: FakultasPertanian Universitas Hasanuddin Makassar.

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR – DASAR ILMU TANAH ACARA IX “Reaksi pH Tanah”

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR – DASAR ILMU TANAH


ACARA IX
“Reaksi pH Tanah”

Dosen Pengampu : Ir. Inkorena G.S. Sukartono, M.Agr




Disusun oleh :
Nama  : Adam Maulana
NPM  : 183112500150016
Kelas  : A
Kelompok  :  3

UNIVERSITAS NASIONAL 
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
JAKARTA
2019


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanah merupakan transformasi zat-zat mineral dan organic dimuka daratan bumi. Tanah terbentuk dibawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang bekerja dalam masa yang sangat panjang. Tanah mempunyai organisasi dan morfologi. Tanah merupakan media dari tumbuhan. (Rachman Susanto 2005).
pH tanah sangat penting bagi tanaman dalam menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap oleh tanaman, hal ini menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun yang dapat mempengaruhi aktivitas organisme. Tanah-tanah masam umumnya dijumpai pada daerah beriklim basah. Dalam tanah tersebut konsentrasi ion H +  melebihi konsentrasi ion OH - . Tanah ini mengandung Al, Fe, dan Mn terlarut dalam jumlah besar. Akibatnya, reaksi basa dengan tanahnya hanya mengandung sedikit Al, Fe, dan Mn yang terlarut.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
Adapun tujuan dari praktikum kali ini yaitu mahasiswa diharapkan mengetahui bagaimana cara menghitung pH tanah, mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi pH tanah, dan mengetahui cara menetapkan Ph tanah menggunakan pH meter.



II. TINJAUAN PUSTAKA
pH merupakan salah satu parameter penting suatu tanaman dapat tumbuh atau tidak. Semakin rendah pH tanah maka semakin sulit tanaman untuk tumbuh karena tanah bersifat masam dan mengandung toksik (racun). Sebaliknya, jika pH tanah tinggi maka tanah bersifat basa dan mengandung kapur (Rusdiana, 2012).
Pengaruh terbesar yang umum dari pH terhadap pertumbuhan tanaman adalah pengaruhnya terhadap ketersedian unsur hara. pH tanah dihubungkan dengan persentase kejenuhan Basa. Jika kejenuhan basa kurang dari 100%, suatu penigkatan pH tanah dikaitkan dengan suatu peningkatan jumlah kalsium dan magnesium didalam larutan tanah.
Nilai pH tanah tidak sekedar menunjukkan suatu tanah asam atau alkali, tetapi j ga memberikan informasi tentang sifat-sifat tanah yang lain, seperti ketersediaan fosfor, status kation-kation basa, status kation atau unsur racun, dsb. Kebanyakan tanah-tanah pertanian memiliki pH 4 hingga 8. Tanah yang lebih asam biasanya ditemukan pada jenis tanah gambut dan tanah yang tinggi kandungan aluminium atau belerang. Sementara tanah yang basa ditemukan pada tanah yang tinggi kapur dan tanah yang berada di daerah arid dan di kawasan pantai. pH tanah merupakan suatu ukuran intensitas keasaman, bukan ukuran total asam yang ada di tanah tersebut. Pada tanah-tanah tertentu, seperti tanah liat berat, gambut yang mampu menahan perubahan pH atau keasaman yang lebih besar dibandingkan dengan tanah berpasir (Mukhlis, 2007).



III. METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum reaksi (pH)  tanah adalah gelas ukur yang digunakan sebagai tempai mereaksikan tanah dengan air atau dengan KCl. Sheker digunakan untuk melarutkan tanah sekaligus penaduk tanah dengan pelarut yang akan diguanakan. Ph meter digunakan untuk mengukur larutan tanah yang telah si campurkan.
Bahan yang digunakan dalam praktikum reaksi ( pH ) tanah adalah tanah yang akan di uji, air dan KCl yang digunakan sebagai pelarut dari tanah yang akan di uji pH nya.

B. Cara Kerja
Cara yang digunakan dalam praktikum reaksi ( ph ) tanah adalah sebagai berikut :
1. Ditimbang 10 gram tanah, masukan ke dalam botol dan tambahkan 10 ml air destilata.
2. Dikocok selama 30 menit menggunakan sheker kemudian diamkan sebentar
3. Diukur pH dengan pH meter.
Selanjutnya dengan metode yang sama, pergunakan perbandingan 25 ml air destilata, 50 ml air destilata dan 10 ml KCl.




IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
No. Gambar Keterangan
1   pH tanah citeko dengan perbandingan 10 gram tanah citeko dengan 30 ml KCl
2   pH tanah citeko dengan perbandingan tanah 10 gram dan 50 ml akuadestilata
3   pH tanah citeko dengan perbandingan tanah 10 gram dan 30 ml akuadestilata

No Tanah salam
1  pH 6,60 untuk perbandingan 10 gram tanah dan 30 ml akuadetilata
2 pH 5,90 dengan perbandingan 10 gram tanah dengan 50 ml akuadestilata
3 pH 4,90 dengan perbandingan 10 gram tanah dengan 30 ml KCl

B. Pembahasan
Dari praktikum yang telah dilakukan, Pada 10 gram tanah lempung bawah dengan 30mL air, pH tanah yang didapat sebesar 7,30. Sedangkan perbandingan dengan 10 gram tanah salam dan 50mL air menghasilkan pH yang berbeda yakni 8.00. Pada percobaan dengan larutan KCl, dengan perbandingan 10 gram tanah salam dengan 30mL larutan KCl pH yang dihasilkan pada percobaan tersebut sebesar 5,90.
Rendahnya pH ini disebabkan oleh tercucinya kation-kation basa yang terjadi dari lapisan atas ke lapisan lebih dalam akan meninggalkan kation-kation H+ dan Al3+ di lapisan atas yang sangat berperan dalam kemasaman tanah (Hong, 2008). Rendahnya pH tanah akan menyebabkan menurunnya ketersediaan hara bagi tanaman yang pada akhirnya akan menurunkan produksi Tandan Buah Segar (TBS). (RR Darlita, 2017)
Manfaat dengan mengetahui pH tanah pada bidang pertanian adalah dengan mengetahui pH tanah akan menjadikan kegiatan pertanian lebih mudah karena telah mengetahui jenis maupun kandungan asam dan basa tanah, sehingga dapat menentukan komoditas apa yang cocok dibudidayakan pada tanah tersebut (Rappang, 2011).

Kemampuan tanah untuk mempertahankan pH dan perubahan karena penambahan alkalis atau masam yang dinamakan daya sanggah tanah ( Hardjowigeno, 2003).
Pada tanah yang diberika larutan KCl membuat tanah menjadi semakin asam karena bertambahnya konsentrasi ion H+ didalam tanah. Tanah yang hanya diberi akuadestilata tidak terlalu berpengaruh terhadap keasaman tanah tetapi penambahan KCl membuat Ph tanah semakin asam.




V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan praktikum reaksi pH  tanah maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. 10 gram tanah citeko yang dicampur 30 ml akuadetilata memiliki pH 5,90
2. 10 gram tanah citeko yang dicampur 50 ml akuadestilata memiliki pH 5,50
3. 10 gram tanah citeko yang dicampur 30 ml larutan KCl memiliki pH 4,95
4. 10 gram tanah salam yang dicampur 30 ml akuadestilata memiliki pH 6,60
5. 10 gram tanah salam yang dicampur 50 ml akuadestilata memiliki pH 5,90
6. 10 gram tanah alam yang dicampur 30 ml KCl memiliki pH 4,90


B. Saran
Selama proses praktikum kali ini sudah berjalan dengan lancar dan sudah cukup baik. Hanya saja sering terjadi ketidak kondusifan selama proses praktikum, alangkah lebih baik jika proses praktikum berjalan lebih kondusif. Penjelasan mengenai prosedur praktikum alangkah lebih baik jika diterangkan dengan seksama agar mudah dipahami.





DAFTAR PUSTAKA

Hardjowigeno, Sarwono. 2015. Ilmu Tanah. Akademika Presindo. Jakarta.
G,S Sukartono, Inkorena. 2019. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Nasional: Jakarta.
Gusli, S. 2015. Penuntun Praktikum Dasar-dasar Ilmu tanah. Makassar: FakultasPertanian Universitas Hasanuddin Makassar.