LAPORAN PRAKTIKUM DASAR – DASAR ILMU TANAH ACARA VII “Struktur Tanah”

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR – DASAR ILMU TANAH


ACARA VII
“Struktur Tanah”
Disusun oleh :
Nama  : Adam Maulana
NPM : 183112500150016
Kelas  : A
Kelompok  :  3

UNIVERSITAS NASIONAL 
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
JAKARTA
2019






I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Struktur tanah merupakan sifat fisik yang menggambarkan susunan ruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain embentuk agregat dari hasil proses pedogenesis.
Struktur tanah berhubungan dengan cara dimana, partikel pasir, debu dan liat relative disusun satu sama lain. Didalam tanah dengan struktur yang baik, partikel pasir,dan debu dipegang besama pada agregat-agregat ( gumpalan kecil ) oleh liat humus dan kalsium. Ruang kososng yang besar antara agregat ( maropori ) membentuk sirkulasi air dan udara akar tanaman untuk tumbuh kebawah pada tanah yang lebih dalam. Sedangkan ruangan kosong yang kecil ( mikropori ) memegang air untuk kebutuhan tanaman. Idealnya bahwa struktur disebut glanular.pengaruh struktur dan tekstur tanah terhadap pertumbuhan tanaman terjadi secara langsung. Struktur tanah tang remah pada umumnya menghasilkan laju pertumbuhan tanaman pakan persatuan waktu yang lebih tinggi dibandingkan dengan struktur tanah yang padat. 

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui struktur tanah dari suatu sampel tanah di lapang yang diuji.








    II. TINJAUAN PUSTAKA

      Struktur merupakan susunan partikel-partikel dalam tanah yang membentuk agregat-agregat serta agregat satu dengan yang lainnnya dibatasi oleh bidang alami yang lemah. Struktur tanah sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim, aktivitas biologi, dan proses pengolahan tanah dan sangat pekat terhadap gaya-gaya perusak mekanis dan fisika-kimia ( Utomo,1985 )
Syarief ( 1989 ) berpendapat bahwa struktur tanah merupakan suatu sifat fisik yang penting, karena dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, mempengaruhi sifat dan keadaan tanah seperti: gerakan air dan aerasi, tata air, pernafasan akar tanaman serta penetrasi akar tanaman ditentukan oleh struktur tanah. Tanah yang berstruktur baik akan mampu membantu berfungsinya factor-faktor pertumbuhan tanaman secara optimal, sedangkan tanah yang bertekstur tidak baik menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman.
Buol dkk., ( 1980 ) menyatakan bahwa struktur tanah memiliki Sembilan bentuk, yaitu bentuk tunggal, pejal, lempeng, prisma, tiang, gumpal bersudut, gumpal, granular, dan remah. Sedangkan Hillel ( 1980 ) membagi struktur tanah menjadi tiga bentuk, yaitu : butir tunggal jika partikel tanah tidak saling terikat atau lepas; massif jika partikel tanah terikat kuat pada suatu massa tanah kohesif yang besar, dan agregat jika partikel tanah terikat tidak terlalu kuat satu sama lain. Struktur agregat merupakan struktur terbaik untuk tanah-tanah pertanian. Pengolahan tanah dilakukan untuk mendapatkan kondisi struktur tanah dengan tipe agregat.
Struktur tanah berpengaruh terhadap kapasitas menahan air, lalu lintas air dan udara didalam tanah, serta erosi. Struktur tanah yang mantap dengan agregat stabil dapat menciptakan aerasi tanah yang baik, mempermudah air meresap, meningatkan kapasitas infiltrasi, perkolasi, dan menurunkan aliran permukaan sehingga dapat menurunkan nilai erodibilitas tanah ( Sinukaban dan Rahman, 1983 ).




III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum konsistensi tanah adalah hanya ibu jari yang digunakan untuk menganalisis struktur dari tanah yang di uji.  Diperlukan juga buku penuntun untuk membantu menganalisis struktur tanah yang diuji.

B. Cara Kerja

Cara yang digunakan dalam praktikum konsistensi tanah adalah sebagai berikut :
1. Ambil gumpalan tanah ( sedapat mungkin dala keadaan lembab ) sebesar 10 cm³, kemudian dipecah dengan cara menekan dengan jari. 
2. Pecahan gumpalan tersebut merupakan agregat atau gabungan agregat. Dari agregat ditentukan bentuk, ukuran dan kemantapannya.







IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

Gambar




Bentuk : Gumpal
Tinggi Gumpalan 0,8 mm
Diameter Gumpalan 0.4 mm
B. Pembahasan

struktur tanah memiliki Sembilan bentuk, yaitu bentuk tunggal, pejal, lempeng, prisma, tiang, gumpal bersudut, gumpal, granular, dan remah ( Buol., dkk, 1980 ) . Sedangkan Hillel ( 1980 ) membagi struktur tanah menjadi tiga bentuk, yaitu : butir tunggal jika partikel tanah tidak saling terikat atau lepas; massif jika partikel tanah terikat kuat pada suatu massa tanah kohesif yang besar, dan agregat jika partikel tanah terikat tidak terlalu kuat satu sama lain. Struktur agregat merupakan struktur terbaik untuk tanah-tanah pertanian. Pengolahan tanah dilakukan untuk mendapatkan kondisi struktur tanah dengan tipe agregat.
Tanah yang diambil secara acak dan dijadika sampel untuk percobaan kali ini memiliki struktur tanah gumpal sedang. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan dengan merumas tanah sampel dan menakan sebagian denga ibu jari, hasil yang didapat tanah yang jatuh ke tanah berbentuk gumpalan dengan diameter tanah sebesar 0,4 mm, tinggi tanah 0,8 mm. maka berdasarkan cirri-ciri tesersebut jelas menandakan bahwa tanah tersebt memiliki struktur gumpal sedang. 
Kemantapan agregat dapat berbeda-beda pada setiap jenis tanah. Perbedaan dalam kemantapan agregat menurut Buckman dan Bradly ( 1982 ) berhubungan dengan ada tidaknya zat pengikat tertentu. Senyawa organik merupakan salah satu yang memiliki sifat-sifat pemantap. Baver dkk., ( 1976 ) mengemukakan bahwa tanah dalam bentuk koloid lebih banyak berperan dalam pembentukan agregat yang mantap.
Factor yang mempengaruhi pembentukan agregat
1. Bahan Induk
Variasi penyusun tanah tersebut empengaruhi pembentukan agregat-agregat tanah serta kemantapan yang terbentuk. Kandungan liat menentukan dalam pembentukan agregat, karena liat berfungsi sebagai pengiat yang diabsorbsi pada permukaan butiran pasir dan setelah dihidrasi tingkat reversiblenya sangat lambat. Kandungan liat. 30% akan berpengaruh terhadap agregasi, sedangkan kandungan liat< 30% tida berpengaruh terhadap agregasi.
2. Bahan Organi
Bahan organik tanah merupakan bahan pengikat setelah mengalami pencucian. Pencucian tersebut dipercepat dengan adanya organism tanah. Sehingga bahan organik dan organism didalam tanah saling berhubungan erat.
3. Tanaman
Tanaman pada suatu wilaya dapat membantu pembentukan agregat yang mantap. Akar tanaman dapat menembus tanah dan membentuk celah-celah. Disamping itu dengan adanya tekanan akar, maka butir-butir tanah semakin melekat dan padat. Selain itu celah-celah tersebut dapat terbentuk dari air yang diserap oleh tanaman tersebut.
4. Organisme tanah
Organism tanah dapat mempercepat terbentuknya agregat. Selain itu juga mampu berperan langsung dengan embuat lubang dan menggemburkan tanaman. Secara tidak langsung merombak sisa-sisa tanaman yang setelah dipergunakan akan dikeluarkan lagi menjadi bahan pengikat tanah. 
5. Waktu
Waktu menentukan semua factor pembentukan tanah berjalan. Semakin lama waktu berjalan, maka agregat yang terbentuk pada tanah tersebut semakin mantap.


V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan praktikum struktur tanah maka dapat disimpulkan bahwa, Tanah yang dijadikan sampel pada percobaan ini memiliki struktur gumpal sedang.


B. Saran 

Ketelitian serta keseriusan dalam melakukan praktikum diharapkan meningkat agar mendapatkan hasil yang maksimal.












DAFTAR PUSTAKA

Hardjowigeno, Sarwono. 2015. Ilmu Tanah. Akademika Presindo. Jakarta.
Margolang, RD., dkk. 2015. Karakteristik Beberapa Sifat Fisik, Kimia, dan Biologi
Tanah pada Sistem Pertanian Organik. /Jurnal Online Agroekoteaknologi/. Vol 3 (2): 717-723.
Lubis,VN., dkk. 2016. Karakteristik Fisika Tanah pada Beberapa Tegakan di Subdas
Petani Kabupaten Deli Serdang Sumatra Utara./ Jurnal Agroekoteknologi/. Vol.4 (3): 2048-2054.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar